Pasar Kripto Asia Tumbuh Pesat, Tapi Kenapa Investor Ritel Justru Kabur?

Pasar kripto Asia saat ini sedang menghadapi sebuah paradoks yang menarik. Di satu sisi, arus modal institusional mengalir deras, namun di sisi lain, partisipasi investor ritel kripto justru mengalami penurunan.

Fakta ini diungkapkan dalam laporan terbaru dari Tiger Research, sebuah firma riset dan konsultasi Web3 terkemuka yang berfokus di Asia, yang bekerja sama dengan HTX. Laporan ini membedah secara mendalam mengapa volume perdagangan ritel dan jumlah pengguna baru di sembilan negara Asia menurun, padahal secara keseluruhan industri ini sedang bersiap menyambut siklus bull run berikutnya.

Masuknya Institusi vs Menyusutnya Investor Ritel

Pasca persetujuan ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat pada tahun 2024, kepercayaan institusi terhadap aset digital meroket tajam. Namun, efek domino ini tampaknya gagal menarik perhatian populasi crypto-curious di Asia yakni puluhan juta individu yang sudah mengenal dan tertarik pada kripto, tetapi masih ragu untuk berinvestasi.

Laporan Tiger Research mengidentifikasi 5 hambatan utama yang menahan laju partisipasi investor ritel, antara lain:

  1. Ketidakpastian regulasi
  2. Risiko keamanan siber
  3. Beban pajak yang tinggi
  4. Kurangnya aksesibilitas
  5. Persepsi sosial yang masih negatif

Dinamika Adopsi Kripto di Berbagai Negara Asia

Setiap negara di Asia menghadapi tantangan yang berbeda-beda terkait adopsi kripto:

  • Korea Selatan: Memiliki volume perdagangan tertinggi di Asia yang diproyeksi mencapai USD 663 miliar pada paruh kedua 2025. Namun, rencana pengenaan pajak kripto dan tingginya daya tarik pasar saham domestik membuat tingkat keterlibatan pengguna mulai melemah.
  • Jepang: Menawarkan standar keamanan bursa kripto tertinggi di kawasan Asia. Sayangnya, penerapan pajak hingga 55% atas keuntungan kripto menjadi penghalang berat jika dibandingkan dengan pajak saham.
  • Hong Kong: Telah merampungkan regulasi, keamanan, dan aturan pajak. Namun, syarat kekayaan minimum yang tinggi membuat akses bagi investor ritel biasa menjadi sangat terbatas.
  • Thailand: Negara ini tampil progresif dengan aktif memangkas hambatan melalui pembebasan pajak dan pembukaan akses via kanal institusional.

Sorotan Indonesia: Era Baru di Bawah Pengawasan OJK

Bagi adopsi kripto Indonesia, tahun-tahun ini adalah fase yang sangat krusial. Sejak Januari 2025, pengawasan aset kripto resmi berpindah tangan dari Bappebti ke Otoritas Jasa Keuangan

Perpindahan ini mengubah status kripto dari sekadar komoditas menjadi aset keuangan digital, menempatkannya sejajar dengan instrumen investasi arus utama seperti saham dan obligasi.

Meski Indonesia telah mencatatkan 22,1 juta akun kripto terdaftar, angka ini masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan total populasi yang mencapai 280 juta jiwa. Tiger Research menilai bahwa masa transisi regulasi hingga Januari 2027 mendatang akan menjadi penentu utama arah pertumbuhan investor ritel di Tanah Air.

Baca Juga Mengenal DeFi: Pengertian, Manfaat, dan Cara Kerja

Volatilitas Harga Bukanlah Akar Masalah

Banyak yang berasumsi bahwa pergerakan harga kripto yang ekstremadalah alasan utama ritel menjauh. Namun, laporan ini membantahnya.

Pasar saham tradisional juga kerap mengalami volatilitas yang tinggi, namun tetap ramai peminat karena ditopang oleh regulasi yang jelas, jaminan perlindungan investor, dan legitimasi sosial yang kuat. Faktor-faktor fondasional inilah yang saat ini masih menjadi “PR” besar bagi ekosistem kripto di mayoritas negara Asia.

Ancaman Nyata dari Keuangan Tradisional

Tekanan bagi exchange kriptolokal kini semakin berat seiring agresifnya manuver sektor keuangan tradisional:

  • Hong Kong: Telah menyetujui ETF spot untuk Bitcoin dan Ethereum pada tahun 2024.
  • Jepang: Raksasa finansial SBI Holdings berencana meluncurkan ETF berbasis Bitcoin dan XRP.
  • Thailand: Perusahaan sekuritas mulai menyediakan fitur perdagangan investment token.

Kondisi ini memberikan alternatif yang lebih aman dan familiar bagi masyarakat untuk berinvestasi kripto, yang berpotensi mematikan daya tarik bursa kripto konvensional.

Menanggapi fenomena ini, Ryan Yoon, Head of Research di Tiger Research, memberikan peringatan keras kepada para pelaku industri kripto.

“Jendela bagi exchange untuk mengonversi crypto-curious di Asia semakin menyempit. Keuangan tradisional kini menawarkan akses dengan pengalaman yang lebih familiar. Exchange perlu bersaing melalui keunggulan yang tidak dimiliki TradFi, seperti variasi aset yang lebih luas, akses ke DeFi, dan pasar global yang beroperasi 24/7 namun semua itu harus didukung oleh strategi lokalisasi dan pembangunan kepercayaan,” tegas Ryan.

Bagi Anda yang ingin memahami lebih dalam mengenai data dan proyeksi masa depan pasar Web3 di kawasan ini, laporan lengkapnya dapat diakses secara langsung melalui situs resmi di .

Tinggalkan Balasan